Categories

Minggu, 28 Desember 2014

Gelisah Warna Purnama



Oleh Ismie Hilaly Ardianty

Yuu tahu. Seorang bidadari telah ada dalam dekapannya. Dua bulan lalu sejak ia memutuskan berhenti menunggu dalam kesendirian. Yuu tahu. Ia bosan terus bercerita dengan malam seorang diri. Memandangi purnama tanpa tahu apakah purnama memandanginya juga. Akhirnya, tanpa ragu sedikitpun dalam benaknya, Yuu mengubah diri menjadi seorang pemberani dan menyatakan cintanya pada gadis yang ia cintai. Ryoko, sang bidadari malamnya.

Matahari menghampiri puncak pagi, saat sebuah pesan singkat tiba-tiba muncul di layar handphone gadis itu. Sesaat langkahnya berhenti menyusuri jalan setapak taman kota demi membaca pesan itu. Ia begitu serius membaca huruf-huruf yang terangkai di sana. Matanya menatapnya dengan lekat. Tangannya mulai tak tentu suhu. Dari Yuu.

Warnamu, membawa waktuku kembali pada masa itu.

Yuu. Gadis itu sama sekali tak mengerti, mengapa Yuu kembali. Setelah sekian matahari dan bulan yang mondar-mandir berkunjung ke langit, ia kembali muncul dengan kalimat yang harus ditelan gadis itu. Tenggorokannya terasa kering, ludahnya enggan turun melalui kerongkongan. Ia tak tahu bagaimana harus membalas pesannya. Gadis itu tak mau terjebak lagi, ia tak mau terjebak kata hatinya yang sering terlontar begitu saja tanpa pertimbangan. Apalagi kalau ia sampai utarakan hatinya yang muram karena Yuu. Ia tak mau, Yuu bukan miliknya.

Tetapi, tangannya terlalu berani. Terlalu berani bertanya dan membalas pesan kecil Yuu padanya. Gadis itu begitu penasaran. Otaknya tak mampu mengalahkan hatinya yang mungkin telah merindukan saat-saat ini. Bercakap-cakap lagi dengan Yuu.

Nostalgia: anganmu melayang dibawa angin lalu. Siapakah itu, Yuu?

Dengan cepat Yuu membalas.

Ia orang yang seharusnya kau kenali dengan baik, Hana. Pikirkanlah.

Sesal. Hana menyesali perbuatannya. Seharusnya ia tahu, Yuu takkan semudah itu memberi jawaban tentang apapun. Lagi, ia diperintah untuk memikirkan siapa orang dibalik kalimat kecut Yuu. Lelaki itu memang sering begitu, membuat Hana bingung dengan misteri kalimat-kalimat dari lidahnya.

Hana kemudian duduk di sebuah bangku taman di dekatnya. Ia pandang langit yang agak mendung dengan penuh tanya. Hana menggenggam handphone-nya begitu erat, ragu ia membalas lagi. Tapi, bagaimanapun juga, Hana menurut pada kalimat terakhir Yuu pada pesannya. Ia memikirkannya, hingga menghabiskan pagi yang harusnya ia nikmati.

Ini yang sekarang tak mampu dipahami Yuu. Bidadarinya, telah pasrah dalam dekapannya. Ia telah dapatkan perempuan yang ia cintai. Dan ini yang benar-benar Yuu tak pahami sekarang. Begitu berani tangannya menulis sebuah kalimat pada purnamanya yang dahulu. Hana.

Warnamu, membawa waktuku kembali pada masa itu.

Mata Yuu tak akan salah. Telinga Yuu selalu jujur pada hatinya. Cukup ia habiskan waktu untuk memastikan, bahwa hatinya memang benar-benar telah dicuri gadis itu. Cantik, gadis itu cantik. Ia tak hanya cantik karena wajahnya yang sejernih purnama, namun hati, sikap dan tutur katanya yang secantik sang bulan. Ia seperti cahaya dalam malam pekat. Cukup ia habiskan waktu untuk memastikan, bahwa ia jatuh cinta pada Hana.

Lama, lama sekali yang Yuu rasa untuk tahu, apakah purnamanya memiliki sepotong hati yang sama dengannya. Lama, hingga suatu ketika waktu terasa membeku di sekeliling tubuhnya. Ketika Yuu memberanikan diri bertanya pada Hana, yang juga berbalas kata ‘ya’.

Yuu tak berani melanjutkan langkahnya mendekati Hana. Memiliki hatinya saja ia rasa sudah cukup membuatnya merona setiap masa. Atau, karena sebuah pernyataan Hana yang begitu kecut. Hana tak mau dimiliki dan tak mau memiliki.

Lamunannya tiba-tiba kabur. handphone-nya hampir saja jatuh dari tangannya yang melemas. Sebuah balasan dari Hana muncul, dengan lagu Menghujam Jantungku yang didendangkan Tompi terputar. Yuu membuka pesan itu sambil bersandar pada kasurnya. Kakinya ditekuk untuk mengganjal dagunya.

Nostalgia: anganmu melayang dibawa angin lalu. Siapakah itu, Yuu?

Yuu tersenyum. Dan, begitu berani jemarinya menari-nari membentuk pola pada layar handphone-nya. Ia cepat membalas pesan Hana.

Ia orang yang seharusnya kau kenali dengan baik, Hana. Pikirkanlah.

Terkirim.

Bak ditiup angin salju dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuhnya mendingin -tak tentu suhu seketika. Gadis itu tak membalas. Lama Yuu tunggu sebuah nama yang baru saja ia buat bingung, muncul di layar handphone-nya. Hana. Mengertikah ia dengan kalimatnya? Yuu tak tahu. Yang jelas ia telah terlanjur utarakan hatinya.

Matahari berhasil berada di puncak hari. Hana masih berkutat dengan benaknya, siapakah yang Yuu maksud? Ah, jika yang ia maksud adalah bidadarinya, Yuu hanya berusaha mengejeknya.

Hana makhluk penyendiri, yang berani memiliki hati seseorang tapi takut memiliki tubuhnya. Tidak seperti Yuu yang berani merayu tubuh dan hati seorang anak manusia seperti Ryoko, bidadarinya. Ah, apa Yuu mengabaikan hatinya? Mungkin Yuu tak pernah paham seorang Hana. Mungkin Yuu tak pernah paham bagaimana cinta pada hatinya untuk Yuu.

Matahari berhasil mendaki langit. Hana tak kunjung membalas. Yuu terus bergulat dengan benaknya. Apa Hana tak mengerti batinnya? Mungkin Hana tak mampu paham seorang Yuu yang nyatanya masih setia menunggu sang purnama memandanginya. Mungkin Hana tak paham bahwa orang itu adalah dirinya, ia adalah Hana.

Yuu menggenggam erat benda yang yang menjadi perantara percakapan mereka. Gelisah Yuu siang itu. Hingga akhirnya sebuah kesimpulan merasuki otaknya, ia masih mencintai Hana. Tapi, bagaimana dengan Ryoko?

Gamang Sendiri



Bulankah aku?
Purnama ketika 13 hari sejak aku mati
Dan mati ketika 15 hari sejak purnama
Lalu dua kegelapan aku kembarai

Aku tiada menampaknya sejak matahari melewati enam langit biru. Dengan awan kelabu yang meringis menangis, memuntahkan sari-sari langit ke bumi. Dalam jemariku kini, aku menulis kekosongan rasa yang kubuat sendiri. Kini ia di sana. Memandangiku dari balik kelopak matanya. Lalu ia di sini. Duduk di sampingku, mendengarkan lantunan kata yang tak bersuara dari kepalaku. Tentang bulan, matahari, dan malam. Aku terus membicarakan kata yang tak bersuara, tapi ia tetap mendengarkanku. Hingga akhirnya, di ujung mataku, ia membuatku mencinta menetap dalam kosongnya kata yang tak bersuara. Aku terbisu.

Titik matanya yang coklat jatuh ke bola mataku. Detik kedua, aku memaksanya bangun dengan membuang wajahku yang tak berbentuk. Senja memanggil-manggil dalam teriakan langit yang bising oleh tangisan. Tapi aku tetap mampu mendengarkan kepalanya yang mengoceh memuja diam. Angin terus bernafas di antara kami yang didekati tubuh matahari. Nyatanya, tubuhku mati.

Biar, mungkin kau belum bisa menerjemahkan mataku yang berucap diam. Kata yang aku sadari terjatuh di langit. Tumbuh dari tanah bumi yang kau siram. Menari-nari di atas kepalaku hingga pipiku basah. Terciprat hujan matahari yang beku!

Mendamba sebuah kata yang bersuara, itu kamu. Tapi aku masih mencinta suara sepi yang bising melompat-lompat di tubuhku, itu aku. Kamu merayuku ragu kepada suara diam yang telah lama tinggal. Karena kamu tak membuat aku tampak. Kamu memandangiku dari balik kelopak matamu. Bagaimana mataku? Kamu tak tahu.

Kamu, aku bicarakan kamu. Kamu, layaknya aku paksakan matamu yang terlanjur buta melihat mataku yang belum sayu.

Ini yang terakhir.

Kamis, 18 September 2014

Menjemput Jiwa yang Hilang

Ya Allah, aku benar-benar ingin bersua dengan-Mu
Gulana ini terlalu erat mendekapku
Pengap, tanpa batasnya lamunan ini memintaku
Segera menemui-Mu
Ya Allah, aku benar-benar resah
Savana yang mati ini membuatku berkeluh kesah
Kemana perginya jiwa?
Padahal ruhku masih ada
Aduhai, setengah mati aku kejar manusia
Di bumi daratan hina
Setengah mati aku terlupa jiwa
Yang sebenarnya milik siapa?
Lupa pada-Mu ya Allah, aku hilang dari-Mu
Menjerit-jerit, aku ingin koyak tubuhku
Tapi tiada arti
Yang ‘kan membuatku kembali
Pulang! Aku ingin pulang!
Wahai Yang Maha Suci
Biarkan jiwaku kembali
Biarkan kutemui jalan setapak menuju Engkau
Biarkan Kau izinkan kepergian malang dan galau
Ampuni aku yang hina dari bumi yang kubuat hina
Ampuni hamba dari segala hina

Lamunan Melamun

Melamun
Aku dalam embun
Kulit tak lagi berperih
Atau luka terambil alih

Melamun
Bisakah kau sadarkan aku hingga bangun?
Hei, lelaki bertudung kelambu
Aku bicara padamu!

Melamun
Aku-kamu, cinta yang tak anggun
Membawa kita pergi dalam romantika beruntun
Yang kini tak tau di mana kita sedang berayun

Melamun


Cianjur

Jumat, 05 September 2014

Kisah Seribu Masa

Aku bicara pada ayah
Tentang lentera yang payah
Yang jadi hidup di antah berantah
Yang tak lagi membuat malamku jadi pecah

“Ku pikir sebuah percik api itu telah membawaku mati suci
Tapi ayah, tak hanya itu yang kini menggenang begitu ria di bumiku
Tanganku terluka, sangat terluka hingga goresannya bukan hanya luka
Namun jadi sepotong tanah yang meretak membelah hingga seperti ingin memisah diri
Melepas diri dari tubuhku yang masih haus menyentuh riak angin dari atas perahu juga dentuman hujan yang menyentuh tanah pijakan kaki

Kakiku juga pergi tanpa setetes darahpun tertinggal pada dinding kulitku yang terpaksa kehilangannya tanpa jerit air mata

Matakupun menyayu melihat bumiku yang tanpa pandang rasa disendukan kegersangan oleh air-air yang kian terkuras”

Ayah sejenak membuang nafas dan mencoba membuatku berhenti mengenang perih yang kurasa perih dengan getaran udara lembut keluar dari cintanya, “itu romantika, anakku”


Cianjur

Sabtu, 06 September 2014

Bumi-tanah

Ken,
Aku ingin berkisah
Tentang abu sepotong tanah
Berpohon ayu tanpa getah

Ken,
Ia telah di sana
Sejak ribuan matahari-purnama
Sejak ia mulai meniduri bumi yang tanpa bala
Lalu sebiji benih terkubur di tubuhnya
Tumbuh mematung menuruti masa

Ken,
Ini kisah yang tak kuharap berujung nestapa
Karena apa daya, benih itu telah jadi segalanya
Menjelma perindangan bagi tanah dan buminya
Menjadi perekat tanah dan bumi sebab ia tumbuh di antaranya

Ken,
Ialah pohon tak bergetah
Yang tak memberi bumi-tanah sebuah resah
Janji mati suci yang takkan buat mereka payah
Menentang tangan alam yang kenan mereka pisah


Cianjur

Minggu, 07 September 2014

Kamis, 28 Agustus 2014

Rabu, 30 Juli 2014

Resensi Buku: Pesan-pesan Cinta untuk Para Wanita

Judul Buku:
100 Pesan Terakhir Nabi untuk Wanita
Penuntun Akhlak dan Ibadah
Pengarang:
Badwi Mahmud Al-Syaikh
Penerbit:
MIZANIA
Jumlah Halaman:
201 halaman
Harga Buku:
Rp 37.500.00,-
            Wanita salehah adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia. Ia adalah wanita yang hidup dalam ketaatan di jalan-Nya dengan akhlaknya yang mulia. Wajahnya memancarkan cahaya kecantikan yang ia tanamkan dari hati dan akhlaknya. Ia sangat menjaga keindahan dan kecantikan dirinya lewat ketaatannya pada Allah swt.
            Allah swt. mengartikan wanita salehah dalam firman-Nya, “Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka) …” (QS An-Nisa [4]: 34). Maksud kesalehan di sini adalah kesalehan yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku wanita.
            Menurut Al-Fakhrurrazi, penulis tafsir Al-Kabir, dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa wanita salehah adalah mereka yang telah memenuhi hak-hak Allah, lalu memenuhi hak-hak suami. Hal ini karena ada dua hal yang terdapat pada pengertian wanita salehah, yaitu qanitat yang artinya perempuan-perempuan yang taat kepada Allah dan hafizhat li al-ghaib yang artinya perempuan-perempuan yang memenuhi hak-hak suami.
            Namun kini, pada zaman modern yang glamor dan hedonis, para wanita sering terjebak dalam sikap yang berbeda dengan hakikat wanita pada awalnya. Zaman ini mengalihkan sikap mereka menjadi sikap yang mementingkan diri sendiri dan mengabaikan tugas-tugas utama serta kewajiban mereka sebagai hamba Allah juga sebagai perempuan. Tak sedikit pula wanita yang kini tak memiliki akhlak yang mulia juga kehormatan diri seorang wanita. Maka dari itu, dibutuhkan tuntunan dan bimbingan agar mereka dapat kembali menjadi wanita yang semestinya. Wanita yang taat kepada Allah dan menjaga kehormatan diri, suami serta keluarganya.
            Dalam buku ini, Badwi Mahmud Al-Syaikh menjelaskan seratus hadis-hadis sahih Nabi mengenai perempuan. Tentang tugasnya sebagai anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya; sebagai istri yang dapat melayani suaminya dengan baik serta mampu menjaga harta dan kehormatan suaminya; sebagai  ibu yang mendidik, merawat, serta melindungi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang; juga sebagai orang yang mempunyai peran penting dalam kehidupan bermasyarakat.
            Karakter dan akhlak perempuan, ibadahnya kepada Allah dan beberapa fiqih bagi perempuan juga menjadi pembahasan dalam buku ini. Seperti kecemburuan istri, sikap lembut dan kasih sayang ibu, perempuan sebagai penyejuk suami, haji bagi perempuan, serta keutamaan sedekah bagi perempuan.
            Buku ini adalah buku terjemahan yang menyajikan pembahasan hadis-hadis Nabi seputar perempuan dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Hal ini disebabkan terjemahannya baik sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia. Halaman transliterasi yang disertakan pun menjadi pelengkap buku ini sehingga pembaca mudah menerjemahkan kalimat bahasa Arab yang dicetak Latin. Namun, penyusunan bab-babnya tidak begitu rapi karena tidak ada klasifikasi pembahasannya. Dari bab yang satu ke bab yang selanjutnya menjadi tidak saling berhubungan.
            Sebagai seorang muslimah, sudah semestinya ia patuh dan taat terhadap hal-hal yang dibebankan Allah dan Rasul-Nya kepadanya. Ia mesti mencintai suaminya dengan taat kepadanya, berbakti kepada kedua orang tuanya, menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, juga menjadi mutiara bagi lingkungannya. Tak terlepas dari itu, ia pun memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, perlindungan dan bimbingan.

            Tak hanya bagi kaum perempuan, buku ini cocok untuk dibaca oleh siapa pun sebagai ilmu yang insya Allah akan bermanfaat nantinya. Penuntun bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri agar menjadi hamba yang sempurna di hadapan Allah swt.

Jumat, 14 Maret 2014

Kartun Budaya Asia yang Mendunia



Nama film
:
Avatar : The Legend of Aang
Genre
:
Petualangan, Fantasi
Format
:
Animasi
Pembuat
:
Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko
Penulis
:
Michael Dante DiMartino, Bryan Konietzko, Aaron Ehasz, Tim hedrick, dan Nick Malis
Sutradara
:
Lauren MacMullan, Dave Filoni, Giancarlo Volpe, Ethan Spaulding, Joaquim Dos Santos
Jumlah musim
:
3
Jumlah episode
:
61
Durasi
:
24 menit
Periode siaran
:
21 Februari 2005 – 19 Juli 2008

          Avatar: The Legend of Aang adalah serial animasi televisi Amerika yang ditayangkan oleh salah satu jaringan televisi Amerika, Nickelodeon. Mengambil tempat di dalam dunia seni bela diri dan sihir unsur-unsur alam dengan pengaruh budaya Asia.
          Film yang diproduseri oleh Michael Dante DiMartino, Bryan Konietzko, dan Aaron Ehasz ini mengambil tempat di sebuah dunia fantasi, tempat tinggal manusia, berbagai binatang fantastik, dan roh-roh. Peradaban manusia di dunia ini dibagi menjadi 4: Suku Air, Kerajaan Tanah, Negara Api, dan Pengembara Udara.
          Ketika Aang berumur 12 tahun, ia diuji oleh para tetua (para biksu) Pengembara Udara dengan memilih empat mainan dari ribuan mainan pilihan. Ternyata ia memilih empat mainan milik avatar sebelumnya. Maka para biksu pun berdiskusi bahwa Aang adalah reinkarnasi avatar selanjutnya. Namun, Aang mendengar pembicaraan para biksu hingga ia pun kabur karena belum siap menerima takdirnya sebagai seorang avatar.
          Seharusnya Aang memang belum boleh diberitahukan bahwa ia seorang avatar. Pengujian ini seharusnya dilakukan dan diberitahukan kabarnya kepada Aang ketika usianya mencapai 16 tahun. Tetapi para biksu khawatir akan terjadi perang antarnegara sebelum Aang siap untuk menjadi avatar.
          Dalam perjalanan kaburnya, Aang dan Appa (bison terbang miliknya) diterpa badai petir yang luar biasa. Hingga mereka berdua pun jatuh ke dalam laut. Aang berusaha menyelamatkan nyawa mereka berdua dengan menggunakan pengendalian udaranya untuk membekukan mereka berdua.
          Satu abad kemudian mereka pun ditemukan oleh Katara dan Sokka, dua orang remaja Suku Air Selatan. Singkat cerita, mereka pun mengembara keliling dunia dengan membawa misi menyelamatkan kedamaian dunia dari Negara Api.
          Film yang dikemas dalam format animasi ini banyak meminjam seni dan mitologi Benua Asia. Banyak budaya Asia yang dipakai dalam film ini sehingga mampu memperkenalkan budaya Asia ke lingkup dunia hiburan Internasional.
          Ceritanya selalu menarik dan membuat penonton penasaran karena selalu ada cerita baru yang ditayangkan di setiap episodenya, tapi ceritanya tetap tak terputus. Karakter Aang yang senang dengan permainan, konyol, tapi serius dan bertekad kuat, Sokka yang cerdik dalam menentukan strategi perang, Katara (pengendali air) yang lembut dan keibuan namun mampu kuat dan tegas, juga Taa (pengendali tanah) yang cuek dan kuat, membuat cerita menjadi tak pernah bosan untuk ditonton. Mereka menjadi kelompok Avatar yang unik dalam cerita film ini.
          Ketika tim Avatar berusaha menghalangi penghancuran tembok Ba Tsing Se oleh Pasukan Negara Api, tim pembuat film ini memberikan efek suara dan menempatkan shoot dengan baik sehingga episode ini menjadi lebih dramatis. Juga, ketika Putri Yu Wei  mengorbankan nyawanya untuk roh bulan. Terlihat lebih dramatis dan romantis dengan efek suara dan shoot yang keren. Tampaknya tim pembuat film ini serius menggambarkan cerita dengan berbagai efek suara dan tampilan gambar yang mampu mengena di hati dan teringat dalam benak penonton.
          Namun ada beberapa bagian di film ini yang menampilkan adegan berbau seksual yang tak layak ditonton anak-anak di bawah umur, yang ditampilkan tanpa sensor di film aslinya. Sehingga meskipun film ini cocok ditonton siapapun, tetap saja untuk anak-anak di bawah umur harus berada dalam pengawasan orang tua.
          Meskipun begitu, banyak juga nilai-nilai yang dapat kita ambil dari film ini, seperti kekuatan cinta Aang kepada Katara, semangat Aang, Sokka, Katara, dan Taa dalam memperjuangkan tanah air mereka dari jajahan Negara Api, semangat Aang dalam mempelajari hal baru, yaitu mempelajari pengendalian air, tanah, dan api, dan hal-hal lain yang dapat dijadikan pelajaran jika kita melihatnya dari sisi positif.

          Film ini mengajarkan banyak hal tentang semangat, perjuangan, pengorbanan, dan cinta. Sehingga film ini baik untuk ditonton siapapun dan cocok untuk dijadikan film keluarga. Tetapi, untuk anak-anak di bawah umur harus tetap dalam pengawasan orang tua.