Bulankah aku?
Purnama ketika 13 hari sejak aku mati
Dan mati ketika 15 hari sejak purnama
Lalu dua kegelapan aku kembarai
Aku
tiada menampaknya sejak matahari melewati enam langit biru. Dengan awan kelabu
yang meringis menangis, memuntahkan sari-sari langit ke bumi. Dalam jemariku
kini, aku menulis kekosongan rasa yang kubuat sendiri. Kini ia di sana.
Memandangiku dari balik kelopak matanya. Lalu ia di sini. Duduk di sampingku,
mendengarkan lantunan kata yang tak bersuara dari kepalaku. Tentang bulan, matahari,
dan malam. Aku terus membicarakan kata yang tak bersuara, tapi ia tetap
mendengarkanku. Hingga akhirnya, di ujung mataku, ia membuatku mencinta menetap
dalam kosongnya kata yang tak bersuara. Aku terbisu.
Titik
matanya yang coklat jatuh ke bola mataku. Detik kedua, aku memaksanya bangun
dengan membuang wajahku yang tak berbentuk. Senja memanggil-manggil dalam
teriakan langit yang bising oleh tangisan. Tapi aku tetap mampu mendengarkan
kepalanya yang mengoceh memuja diam. Angin terus bernafas di antara kami yang
didekati tubuh matahari. Nyatanya, tubuhku mati.
Biar,
mungkin kau belum bisa menerjemahkan mataku yang berucap diam. Kata yang aku
sadari terjatuh di langit. Tumbuh dari tanah bumi yang kau siram. Menari-nari
di atas kepalaku hingga pipiku basah. Terciprat hujan matahari yang beku!
Mendamba
sebuah kata yang bersuara, itu kamu. Tapi aku masih mencinta suara sepi yang
bising melompat-lompat di tubuhku, itu aku. Kamu merayuku ragu kepada suara
diam yang telah lama tinggal. Karena kamu tak membuat aku tampak. Kamu
memandangiku dari balik kelopak matamu. Bagaimana mataku? Kamu tak tahu.
Kamu,
aku bicarakan kamu. Kamu, layaknya aku paksakan matamu yang terlanjur buta
melihat mataku yang belum sayu.
Ini
yang terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar