Categories

Minggu, 28 Desember 2014

Gamang Sendiri



Bulankah aku?
Purnama ketika 13 hari sejak aku mati
Dan mati ketika 15 hari sejak purnama
Lalu dua kegelapan aku kembarai

Aku tiada menampaknya sejak matahari melewati enam langit biru. Dengan awan kelabu yang meringis menangis, memuntahkan sari-sari langit ke bumi. Dalam jemariku kini, aku menulis kekosongan rasa yang kubuat sendiri. Kini ia di sana. Memandangiku dari balik kelopak matanya. Lalu ia di sini. Duduk di sampingku, mendengarkan lantunan kata yang tak bersuara dari kepalaku. Tentang bulan, matahari, dan malam. Aku terus membicarakan kata yang tak bersuara, tapi ia tetap mendengarkanku. Hingga akhirnya, di ujung mataku, ia membuatku mencinta menetap dalam kosongnya kata yang tak bersuara. Aku terbisu.

Titik matanya yang coklat jatuh ke bola mataku. Detik kedua, aku memaksanya bangun dengan membuang wajahku yang tak berbentuk. Senja memanggil-manggil dalam teriakan langit yang bising oleh tangisan. Tapi aku tetap mampu mendengarkan kepalanya yang mengoceh memuja diam. Angin terus bernafas di antara kami yang didekati tubuh matahari. Nyatanya, tubuhku mati.

Biar, mungkin kau belum bisa menerjemahkan mataku yang berucap diam. Kata yang aku sadari terjatuh di langit. Tumbuh dari tanah bumi yang kau siram. Menari-nari di atas kepalaku hingga pipiku basah. Terciprat hujan matahari yang beku!

Mendamba sebuah kata yang bersuara, itu kamu. Tapi aku masih mencinta suara sepi yang bising melompat-lompat di tubuhku, itu aku. Kamu merayuku ragu kepada suara diam yang telah lama tinggal. Karena kamu tak membuat aku tampak. Kamu memandangiku dari balik kelopak matamu. Bagaimana mataku? Kamu tak tahu.

Kamu, aku bicarakan kamu. Kamu, layaknya aku paksakan matamu yang terlanjur buta melihat mataku yang belum sayu.

Ini yang terakhir.

Tidak ada komentar: