Oleh Ismie Hilaly Ardianty
Yuu tahu. Seorang
bidadari telah ada dalam dekapannya. Dua bulan lalu sejak ia memutuskan
berhenti menunggu dalam kesendirian. Yuu tahu. Ia bosan terus bercerita dengan
malam seorang diri. Memandangi purnama tanpa tahu apakah purnama memandanginya
juga. Akhirnya, tanpa ragu sedikitpun dalam benaknya, Yuu mengubah diri menjadi
seorang pemberani dan menyatakan cintanya pada gadis yang ia cintai. Ryoko,
sang bidadari malamnya.
Matahari menghampiri
puncak pagi, saat sebuah pesan singkat tiba-tiba muncul di layar handphone gadis itu. Sesaat langkahnya
berhenti menyusuri jalan setapak taman kota demi membaca pesan itu. Ia begitu
serius membaca huruf-huruf yang terangkai di sana. Matanya menatapnya dengan
lekat. Tangannya mulai tak tentu suhu. Dari Yuu.
Warnamu,
membawa waktuku kembali pada masa itu.
Yuu.
Gadis itu sama sekali tak mengerti, mengapa Yuu kembali. Setelah sekian
matahari dan bulan yang mondar-mandir berkunjung ke langit, ia kembali muncul
dengan kalimat yang harus ditelan gadis itu. Tenggorokannya terasa kering,
ludahnya enggan turun melalui kerongkongan. Ia tak tahu bagaimana harus
membalas pesannya. Gadis itu tak mau terjebak lagi, ia tak mau terjebak kata
hatinya yang sering terlontar begitu saja tanpa pertimbangan. Apalagi kalau ia
sampai utarakan hatinya yang muram karena Yuu. Ia tak mau, Yuu bukan miliknya.
Tetapi, tangannya
terlalu berani. Terlalu berani bertanya dan membalas pesan kecil Yuu padanya.
Gadis itu begitu penasaran. Otaknya tak mampu mengalahkan hatinya yang mungkin
telah merindukan saat-saat ini. Bercakap-cakap lagi dengan Yuu.
Nostalgia:
anganmu melayang dibawa angin lalu. Siapakah itu, Yuu?
Dengan cepat Yuu
membalas.
Ia
orang yang seharusnya kau kenali dengan baik, Hana. Pikirkanlah.
Sesal. Hana menyesali
perbuatannya. Seharusnya ia tahu, Yuu takkan semudah itu memberi jawaban
tentang apapun. Lagi, ia diperintah untuk memikirkan siapa orang dibalik
kalimat kecut Yuu. Lelaki itu memang sering begitu, membuat Hana bingung dengan
misteri kalimat-kalimat dari lidahnya.
Hana kemudian duduk
di sebuah bangku taman di dekatnya. Ia pandang langit yang agak mendung dengan
penuh tanya. Hana menggenggam handphone-nya
begitu erat, ragu ia membalas lagi. Tapi, bagaimanapun juga, Hana menurut pada
kalimat terakhir Yuu pada pesannya. Ia memikirkannya, hingga menghabiskan pagi
yang harusnya ia nikmati.
Ini yang sekarang tak
mampu dipahami Yuu. Bidadarinya, telah pasrah dalam dekapannya. Ia telah
dapatkan perempuan yang ia cintai. Dan ini yang benar-benar Yuu tak pahami
sekarang. Begitu berani tangannya menulis sebuah kalimat pada purnamanya yang
dahulu. Hana.
Warnamu,
membawa waktuku kembali pada masa itu.
Mata Yuu tak akan
salah. Telinga Yuu selalu jujur pada hatinya. Cukup ia habiskan waktu untuk
memastikan, bahwa hatinya memang benar-benar telah dicuri gadis itu. Cantik,
gadis itu cantik. Ia tak hanya cantik karena wajahnya yang sejernih purnama,
namun hati, sikap dan tutur katanya yang secantik sang bulan. Ia seperti cahaya
dalam malam pekat. Cukup ia habiskan waktu untuk memastikan, bahwa ia jatuh cinta
pada Hana.
Lama, lama sekali
yang Yuu rasa untuk tahu, apakah purnamanya memiliki sepotong hati yang sama
dengannya. Lama, hingga suatu ketika waktu terasa membeku di sekeliling
tubuhnya. Ketika Yuu memberanikan diri bertanya pada Hana, yang juga berbalas
kata ‘ya’.
Yuu tak berani
melanjutkan langkahnya mendekati Hana. Memiliki hatinya saja ia rasa sudah
cukup membuatnya merona setiap masa. Atau, karena sebuah pernyataan Hana yang
begitu kecut. Hana tak mau dimiliki dan tak mau memiliki.
Lamunannya tiba-tiba
kabur. handphone-nya hampir saja
jatuh dari tangannya yang melemas. Sebuah balasan dari Hana muncul, dengan lagu
Menghujam Jantungku yang didendangkan
Tompi terputar. Yuu membuka pesan itu sambil bersandar pada kasurnya. Kakinya
ditekuk untuk mengganjal dagunya.
Nostalgia:
anganmu melayang dibawa angin lalu. Siapakah itu, Yuu?
Yuu tersenyum. Dan,
begitu berani jemarinya menari-nari membentuk pola pada layar handphone-nya. Ia cepat membalas pesan
Hana.
Ia
orang yang seharusnya kau kenali dengan baik, Hana. Pikirkanlah.
Terkirim.
Bak ditiup angin
salju dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuhnya mendingin -tak tentu suhu
seketika. Gadis itu tak membalas. Lama Yuu tunggu sebuah nama yang baru saja ia
buat bingung, muncul di layar handphone-nya.
Hana. Mengertikah ia dengan kalimatnya? Yuu tak tahu. Yang jelas ia telah
terlanjur utarakan hatinya.
Matahari berhasil
berada di puncak hari. Hana masih berkutat dengan benaknya, siapakah yang Yuu
maksud? Ah, jika yang ia maksud adalah bidadarinya, Yuu hanya berusaha
mengejeknya.
Hana makhluk
penyendiri, yang berani memiliki hati seseorang tapi takut memiliki tubuhnya.
Tidak seperti Yuu yang berani merayu tubuh dan hati seorang anak manusia
seperti Ryoko, bidadarinya. Ah, apa Yuu mengabaikan hatinya? Mungkin Yuu tak
pernah paham seorang Hana. Mungkin Yuu tak pernah paham bagaimana cinta pada
hatinya untuk Yuu.
Matahari berhasil
mendaki langit. Hana tak kunjung membalas. Yuu terus bergulat dengan benaknya.
Apa Hana tak mengerti batinnya? Mungkin Hana tak mampu paham seorang Yuu yang
nyatanya masih setia menunggu sang purnama memandanginya. Mungkin Hana tak
paham bahwa orang itu adalah dirinya, ia adalah Hana.
Yuu menggenggam erat
benda yang yang menjadi perantara percakapan mereka. Gelisah Yuu siang itu.
Hingga akhirnya sebuah kesimpulan merasuki otaknya, ia masih mencintai Hana.
Tapi, bagaimana dengan Ryoko?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar