Aku bicara pada ayah
Tentang lentera yang
payah
Yang jadi hidup di
antah berantah
Yang tak lagi
membuat malamku jadi pecah
“Ku pikir sebuah
percik api itu telah membawaku mati suci
Tapi ayah, tak hanya
itu yang kini menggenang begitu ria di bumiku
Tanganku terluka,
sangat terluka hingga goresannya bukan hanya luka
Namun jadi sepotong
tanah yang meretak membelah hingga seperti ingin memisah diri
Melepas diri dari
tubuhku yang masih haus menyentuh riak angin dari atas perahu juga dentuman
hujan yang menyentuh tanah pijakan kaki
Kakiku juga pergi
tanpa setetes darahpun tertinggal pada dinding kulitku yang terpaksa
kehilangannya tanpa jerit air mata
Matakupun menyayu
melihat bumiku yang tanpa pandang rasa disendukan kegersangan oleh air-air yang
kian terkuras”
Ayah sejenak
membuang nafas dan mencoba membuatku berhenti mengenang perih yang kurasa perih
dengan getaran udara lembut keluar dari cintanya, “itu romantika, anakku”
Cianjur
Sabtu, 06 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar