Categories

Kamis, 18 September 2014

Kisah Seribu Masa

Aku bicara pada ayah
Tentang lentera yang payah
Yang jadi hidup di antah berantah
Yang tak lagi membuat malamku jadi pecah

“Ku pikir sebuah percik api itu telah membawaku mati suci
Tapi ayah, tak hanya itu yang kini menggenang begitu ria di bumiku
Tanganku terluka, sangat terluka hingga goresannya bukan hanya luka
Namun jadi sepotong tanah yang meretak membelah hingga seperti ingin memisah diri
Melepas diri dari tubuhku yang masih haus menyentuh riak angin dari atas perahu juga dentuman hujan yang menyentuh tanah pijakan kaki

Kakiku juga pergi tanpa setetes darahpun tertinggal pada dinding kulitku yang terpaksa kehilangannya tanpa jerit air mata

Matakupun menyayu melihat bumiku yang tanpa pandang rasa disendukan kegersangan oleh air-air yang kian terkuras”

Ayah sejenak membuang nafas dan mencoba membuatku berhenti mengenang perih yang kurasa perih dengan getaran udara lembut keluar dari cintanya, “itu romantika, anakku”


Cianjur

Sabtu, 06 September 2014

Tidak ada komentar: