Categories

Kamis, 15 November 2012

Tubuh Langit

Riuh dawai angin
Aku berandai langit
Hanyut . . .
Aku tatap birunya
Ia bertakdir itu
Aku sentuh ia
Jadi jingga senja
Dan hitam malam

Nopember 2012

Kamis, 25 Oktober 2012

Selasa, 09 Oktober 2012

Pernyataan Aneh



Nyanyian Sparrow, burung pipit sahabatku menyambut matahari yang baru beberapa saat lalu muncul. Ia terbang menghampiriku dan bertengger di ujung jariku ketika aku membuka jendela kamar. Dengan riang ia mengajakku tersenyum. Ah, pagi yang indah di Negri Escapist.
Daun-daun biru, sebiru langit di atas tanah Negri Escapist yang terkenal dengan mawar ungu yang hanya tumbuh di halaman istanaku. Pohon-pohon yang heksahedral pun menambah ciri khas dari negri yang ku pimpin ini. Bunga melati hitam yang semerbak harumnya tiada tandingan. Air menitik di atas tumbuhan yang tumbuh ceria di negri ini. Embun. Tadi malam hujan tidak turun, tapi karena negri ini berada di puncak gunung Abadi. Segar.
Aku berjalan-jalan sambil menyapa para penduduk yang ramah. Namun di suatu tempat, aku bertemu seorang kakek yang kesusahan membawa sekeranjang pepaya merah muda. Aku bergegas membantunya. Ia tersenyum. Sambil berbincang-bincang kami menuju sebuah rumah kecil di dekat hutan terong emas. Tiba-tiba telfonku berdering...
“halo?” ucap seseorang di sana.
“ada apa Ayah?”
“Astuti, kenapa kamu langsung keluyuran? Mandi dan sarapan dulu! Cepatlah pulang!”
Dengan malu karena kakek itu mendengar pembicaraan aku dan ayah, aku pamit pulang. Sebelumnya kakek itu berterimakasih padaku dan memberiku sebuah pepaya merah muda dan sebuah terong emas.
“makanlah buah-buah itu setelah kamu sarapan, gadis manis!” ucapnya dengan suaranya yang ia paksakan keras.
“iya, Kek. Terima kasih”  aku meninggalkannya dengan senyuman.
***
Aku segera mengambil garpu dan pisau untuk memakan buah-buah itu. Tapi, saat pisau menyentuh kulit buah pepaya merah muda, buah itu menggeliat, bergerak-gerak seakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalamnya. Tiba-tiba... Puff! Muncul seorang pria kecil seukuran pepaya. Ia tertawa melihatku yang kaget.
“ahirnya kau ku temukan juga, Putri Astuti! Hahaha” gelak tawanya membahana di seluruh penjuru ruang makan istana.
“boleh aku pinjam HPmu?” tanyanya.
Aku memberikan HPku ragu, sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Baru kali ini aku melihat pria kecil seukuran pepaya yang berjerawat! Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya karena ia memergoki aku yang jijik melihat jerawat yang tak terhitung jumlahnya. Aku terkekeh, tapi ia segera menggenggam gantungan HP kesayanganku yang berbentuk kelinci imut dan mengambilnya. Ia berlari keluar sambil berteriak, “jika kau mau ini kembali, ambillah di puncak Gunung Gagap. Hahaha!”
***
Aku mengajak Sparrow untuk menemaniku mengambil kelinciku kembali. Sebelum berangkat, aku pergi ke desa membeli peta Gunung Gagap. Ternyata murah, hanya seharga sepuluh biji kenari. Lalu ku lanjutkan dengan membeli makanan burung, roti blueberry, susu kental manis, paku, dan beberapa potong gaun.
Aku dan Sparrow mulai beranjak meninggalkan Negri Escapist menuju puncak Gunung Gagap. Awalnya aku berjalan ke utara sejauh sepuluh langkah kaki, lalu belok kiri limapuluh langkah, ke kanan duapuluh langkah dan belok ke utara seratus duapuluh delapan langkah. Setelah itu aku mendaki tebing-tebing curam dengan kemiringan 1790. Huh, sungguh lelah sekali.
Beberapa langkah ke depan, lelaki kecil itu muncul tiba-tiba dari dalam tanah dan mengejutkan aku serta Sparrow. Ia terkekeh lalu menunjukkanku kelinci imut yang dia ambil dariku. Aku segera meraihnya tapi tak dapat!
“eh eh eh. Nanti dulu, jangan buru-buru. Kamu tahu tidak kelinci imut ini milik siapa?”
“milikku!”
“salah! Kamu mendapatkan ini dari Ayahmu kan? Kamu pasti tak tahu, Ayahmu mendapatkan kelinci ini dariku. Jadi, ini milikku.”
“tidak mungkin! Kamu bohong! Itu kelinci kesayanganku... kembalikan!”
“jika kamu mau ini, kamu hanya perlu menjawab pertanyaan dariku.”
“baiklah.”
“maukah kau menikah denganku?”
Tiba-tiba pria kecil berjerawat ini melayang keangkasa. Berputar-putar. Lalu turun lagi dengan wujud baru, ia seperti pangeran tampan!
“siapa kau?” tanyaku heran.
“aku pangeran dari Negri Hiburan. Aku selalu mengikutimu di Twitter dan aku selalu berkunjung melihat status-statusmu di Facebook. Tapi aku malu menampakkan diriku karena aku terlalu tampan. Padahal aku ingin sekali segera menikah denganmu. Bersediakah kau?”
“???”

Kamis, 27 September 2012

"Menirukan Cinta"

Dompet-dompet untuknya
Butiran kata untuknya
Atau hanya sekadar sentuhan
Bunga yang kuncup mulai melakukan
Topeng emas pun menirukan cinta

“Badai yang Tenggelam di Laut Mati”


Tertidur di atas permukaan Laut Mati
Memandang langit yang ku tahu, kini ia kelabu
Menghitam...
Entah matahari akan muncul
Dan musnahkan badai pada awan hitam

Sabtu, 18 Agustus 2012

Contoh Kecil Dari DuMay


        “Teh, mau foto ya.”
          “Iya boleh, tunggu saja.”
          Kala itu langit cerah. Lukisan kapas putih terbentang dalam kanvas biru. Aku yang hendak berfoto di sebuah studio foto untuk persyaratan pendaftaran ekskulku di sekolah, ku dapati satu kejadian yang mungkin dialami oleh banyak dari pengguna DuMay khususnya facebook.
          Lelaki kurus itu berjalan sambil membawa selembar uang seratus ribu. Celana jeans rombeng yang dipasangkan dengan kaos hitam dan topi putih lusuh yang ia kenakan saat itu. Ia mendekati seorang wanita paruh baya yang sedang bertugas di studio foto yang baru saja menawarkanku untuk menunggu giliran.
          Dengan senyuman yang melesat dari bibir lelaki kurus itu, ia memulai percakapan dengan sang wanita.
          “Tukar uang, dong. Seratus ribu”
          “Pakai dua lembar lima puluh?”
          “Recehan aja.”
          Wanita berseragam lengkap, cantik dengan dandanannya yang pas. Mengambil uang yang akan ditukar dari kasir dengan wajah datar. Beberapa detik kemudian, lelaki kurus yang menggenggam uang seratus ribu itu mulai menggoda wanita tanpa nama tersebut.
          “Neng, nanti fotonya tambahin dong di fesbuk punya neng. Jangan Cuma enam. Hihi” senyumannya melesat lagi.
          “Apa sih.” Sinis si wanita sambil memberikan uang yang ditukar.
          “Makasih neng...” kali ini kedipan mata nakal lelaki kurus itu yang berhasil memancing kesal wanita cantik itu.
          Ah, sepertinya mereka telah saling kenal...

  #HATI-HATI PARA FESBUKERS KHUSUSNYA WANITA#Foto-foto yang anda pajang dapat diunduh dengan mudahnya oleh pengguna fesbuk... Atau memang anda sengaja memajangnya? ;)

Rabu, 25 Juli 2012

Ketika Adzan Berkumandang



Matahari tepat berada di titik tertingginya. Teriknya menertawakan raga yang kepanasan. Tak tertahankan. Menciptakan fatamorgana diatas aspal jalan yang tampak seperti air dari kejauhan. Kendaraan lalu-lalang mencoba mengabaikan panasnya sang sumber cahaya.
Tiada setitik pun awan dilangit biru. Burung-burung berteduh dibawah bayangan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Rerumputan menguning di beberapa tempat. Tak segar, kuning kering. Pepohonan dengan tegapnya memberikan keteduhan bagi yang berteduh. Padahal ia sendiri kepanansan.
Seorang anak jalanan dengan sebuah ukulele dan baju kumalnya berlarian menemukan angkutan untuknya mencari nafkah. Dengan semangatnya yang terlihat dari keringatnya yang bercucuran dari pelipis, leher, punggung, dan bagian tubuh lain. Meski tak dapat banyak dari para pendengar nyanyiannya, senyumannya mengantarkan ia menuju kesabaran dan rasa syukur.
Disebuah gang kecil tampak segerombol anak-anak menenggak beberapa butir obat yang tak seharusnya dikonsumsi. Mereka terhuyung-terhuyung bahagia. Tertawa. Padahal rasa sakit akan menikam mereka kemudian.
“ah, aku mau pulang.” Ucap seorang wanita ditengah kebahagiaan pesta.
“mau kemana kamu, Tania? Tak tergodakah kamu dengan ini? Atau kau ingin aku bunuh?! Hahaha....”
Braakkk!!
Lelaki yang mencegah Tania pulang, terjatuh. Ia pingsan. Dengan mantap ia berjalan meninggalkan mereka yang masih tersesat.
Seorang muadzin mulai bersuara dibalik hiruk pikuk kesibukan manusia siang itu. Penanda bahwa waktu zhuhur telah tiba. Seruan beberapa masjid di tengah-tengah kepadatan bangunan rumah dan gedung-gedung dalam kota mengingatkan para pemeluk Islam untuk segera mendirikan shalat.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar! Allaahu Akbar, Allahu Akbar!
Asyhadu an laa ilaaha illallaah! Asyhadu an laa ilaaha illallaah!
Dengan basmallah ia mencuci kedua tangannya, lalu wajahnya. Ia tak seorang diri disana. Banyak pula yang hendak bersuci. Tetesan-tetesan air membasahi kulitnya yang sawo matang. Menyegarkan jiwanya yang sedang dilanda kebimbangan. Teringat kenangan-kenangan buruknya selama hampir setahun bersama gerombolan pemakai narkoba yang berakhir beberapa jam lalu.
Ya, sering kali ia tidak melaksanakan shalat. Bukan lupa, tapi karena disengaja. Kawan yang ia jadikan sahabat dengan rutin mengajak gadis remaja itu menelan butiran-butiran racun hingga ia mabuk untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya Tania terbiasa merasa jauh dari Sang Pencipta. Kenapa aku tiba-tiba ingin shalat?
Seorang lelaki mengganti pakaian kumalnya dengan baju shalat yang bersih rapi. Sarung yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya bekerja, ia ikatkan dipinggangnya. Tak lupa ia pakai peci hitam yang telah lama bersamanya disetiap shalat. Shalat ini adalah cerminan rasa syukurku padaMu, ya Allah. Terimalah shalatku. Aamiin.
Hayya ‘alash shalaah! Hayya ‘alash shalaah!
Tak jauh dari masjid, didepan sebuah warung kecil didalam gang, tampak dua orang lelaki gemuk bermain catur dengan sangat serius. Ditemani masing-masing segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok.
“bapak-bapak ndak solat? Sudah adzan.”
“ibu kagak liat kita lagi ngapain? Solat kan bisa nanti bu!” tegas salah satu lelaki berusia sekiar 45 tahun.
“yo wis, saya nitip warungku dulu yo. Saya mau solat.” Ia berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera mengambil air untuk bersuci.
Hayya ‘alal falaah! Hayya ‘alal falaah!
Jari-jarinya menari diatas keyboard laptop. Pandangan dan fikirannya tenggelam dalam beberapa situs internet yang ia buka. Sesekali ia tertawa membaca status teman-temannya yang nge-galau di dunia maya ataupun chatting dengan seseorang disana.
Hatinya hanya berkata, Ah, sudah zhuhur. Tanpa beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, ia melanjutkan pekerjaan yang ia pentingkan tersebut. Dan membaca lagi, tertawa lagi, lalu jemarinya bermain lagi.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar!
Laa ilaaha illallaah...

Ismie Al-Hilal
Selasa, 23 juli 2012 18:35

Minggu, 15 Juli 2012

3 Hari Pertama, Aku Peserta MOS!


Oh tidak! Aku terlambat. Padahal ini baru hari pertamaku. Fajar sedikit hendak tenggelam, mentari sedang bersiap menampakkan diri. Ini benar-benar terlambat.
“hey kamu! Saat saya bilang satu, kamu naik!” tegas salah seorang panitia yang menghukumku didepan gerbang sekolah. Aku memang belum terbiasa bangun sepagi ini. Apalagi kami para peserta MOS di sekolah ini diharuskan tiba ditempat pada pukul 05.30 pagi. Untung saja tak hanya aku, masih banyak sekali peserta yang kesiangan juga. Beruntungnya aku ada yang menemani.
Fajar telah tenggelam, mentari mulai menampakkan diri. Pagi yang cerah saat sang pemimpin upacara berteriak setegas-tegasnya. Ini upacara pembukaan acara. Tak ku sangka akan selama ini. Oh mentari, kini mulai terasa hangat.
Kami pun bergegas menemukan kelas masing-masing dengan sangat terburu-buru. Kami berlarian layaknya semut yang keluar dari sarangnya. Berbondong-bondong. Kacau. Tanpa tertib. Seperti saat para penonton yang berdesakan menonton konser. Aha! Ini dia. Aku dikelas Xa. Sayangnya aku tak sekelas dengan temanku yang sejak pra-mos bersamaku. Tak hanya aku mungkin, banyak yang terpisah-pisah sepertinya. Nasib, nasib.
Materi, materi, dan materi. Lalu istirahat untuk solat atau sekadar makan camilan. Lalu materi lagi. Begitulah kegiatan kami selama dua hari. Tiada henti hingga waktu menunjukkan pukul empat sore. Kami pulang dengan lega, dan persiapan untuk esok harinya. Rasanya kaki-kaki ini pegal. Karena seharian terduduk diaula, menangkap materi yang diberikan.
Hari kedua terasa lambat. Entah kenapa, mungkin aku sudah bosan. Kantuk sering menyerang. Untung aku masih bisa bercanda dengan teman-teman baruku saat istirahat. Mata yang lelah ini, yang sudah tak kuasa menahan kantuk, seketika cenghar saat keluar dari aula.
Para akhwat bercengkrama dengan cekikikan khas perempuan. Bergurau, bercanda, atau sekadar mengobrol pun dilakukan ketika kami mengantre jatah air untuk kami bersuci. Waktu istirahat solat hampir habis. Para ikhwan tak nampak disekitar sini. Kemana mereka? Mungkin ada tempat wudhu didekat mesjid. Kami sangat terhijab.
Matahari memang tak tampak jika kami sedang di aula. Tapi aku tahu, sang mentari kian turun agar memberitahu waktu telah usai untuk hari itu. Hari kedua selesai. Fyuh, akhirnya!
Hari ketiga dimulai. Dengan teriakkan para panitia yang memberi gerakan pemanasan kepada pesertanya yang kesiangan. Membuyarkan sunyinya pagi ini. Ku hirup udara segar dengan senyuman, aku tak terlambat lagi.
Kami pun dikumpulkan lagi dikelas masing-masing. Para pembimbing mengawali percakapan. “siapa yang sudah makan? Cung hand! Yang belum silakan makan dulu.” Krauk krauk. Nyam nyam. Bla bla bla. Nyanyian yang sangat merdu, ada yang makan ada yang mengobrol. Tak lama kemudian kami dipanggil untuk segera menuju gedung yang mengelilingi lapangan serba guna. Seperti biasa, kami berlarian layaknya semut yang keluar dari sarangnya. Berbondong-bondong. Berdesakan dan segera mencari posisi agar nyaman saat menonton. Yah, hari ini tak ada materi. Setiap ekskul akan menampilkan semacam drama hiburan. Ada juga sih yang unjuk gigi menampilkan kebolehannya. Menarik.
Sayangnya kami sangat sangat diharuskan menikmati acara dengan berdiri. Setiap ada yang ketahuan duduk, para panitia pendisiplin sigap menegur “hey kamu! Jangan egois. Yang lain juga pegal, gak cuma kamu!”. Itu untuk mendidik. Aku mengerti. Itu untuk kebaikan kita juga.
Meskipun begitu, kami tetap mencuri-curi kesempatan untuk duduk. Sungguh, aku tak kuasa lagi! Apalagi aku dan tiga temanku yang kusebut ‘anak kucrit’, dengan kompak duduk diatas dua bangku yang kami bawa dari kelas. Sesekali tertangkap basah sedang duduk, tetap ngeyel karena terlalu pegal (jangan ditiru!). yang lain juga begitu. Merananya nasib kami.
Entah apa yang membuat dia terkenal. Ketika sesi pertanyaan dibuka, pembawa acara mempersilakan bagian ikhwan untuk bertanya. Atau saat apapun yang melibatkan peserta, ikhwan serempak berkata “Asep! Asep!” hingga sang Asep pun menampakkan diri, mewakili para ikhwan. Dan membuatnya menjadi peserta ikhwan teraktif. Sungguh menyenangkan!
Nyata atau maya. Legenda atau fakta. Ku rasa sudah banyak peserta yang mengidolakan beberapa panitia. Yah, bukan cinta pada pandangan pertama, hanya “fans”. Aku pun merasakannya. Hehe. Tapi tetap jaga hati! Kata seorang temanku.
Mentari memang penunjuk waktuku kala itu. Perlahan ia menenggelamkan diri hingga langit menghitam. Kumandang adzan maghrib bergemuruh. Hari terakhir ini, lebih lama namun terasa singkat. Upacara penutupan acara telah selesai, saatnya kami pulang. Senyuman sang kakak yang aku idolakan melesat ke arahku, sambil memberi semangat dan doa untuk perjuanganku yang sebernarnya nanti. Oh, bahagianya! Tapi aku tak boleh larut dalam hal ini. Meski ingin sekali mengobrol lebih lama. Saatnya aku untuk pulang.
Diatas bangga, lega, bahagia. Kami langkahkan kaki meninggalkan komplek sekolah. Hingga hari belajar tiba, kami siap memulai perjuangan! Dengan cinta dan persahabatan, mengawali lembar baru di putih abu-abu...
_ismie al-hilal