Oh tidak! Aku terlambat. Padahal
ini baru hari pertamaku. Fajar sedikit hendak tenggelam, mentari sedang bersiap
menampakkan diri. Ini benar-benar terlambat.
“hey kamu! Saat saya bilang satu,
kamu naik!” tegas salah seorang panitia yang menghukumku didepan gerbang
sekolah. Aku memang belum terbiasa bangun sepagi ini. Apalagi kami para peserta
MOS di sekolah ini diharuskan tiba ditempat pada pukul 05.30 pagi. Untung saja
tak hanya aku, masih banyak sekali peserta yang kesiangan juga. Beruntungnya
aku ada yang menemani.
Fajar telah tenggelam, mentari
mulai menampakkan diri. Pagi yang cerah saat sang pemimpin upacara berteriak
setegas-tegasnya. Ini upacara pembukaan acara. Tak ku sangka akan selama ini. Oh
mentari, kini mulai terasa hangat.
Kami pun bergegas menemukan kelas
masing-masing dengan sangat terburu-buru. Kami berlarian layaknya semut yang
keluar dari sarangnya. Berbondong-bondong. Kacau. Tanpa tertib. Seperti saat
para penonton yang berdesakan menonton konser. Aha! Ini dia. Aku dikelas Xa.
Sayangnya aku tak sekelas dengan temanku yang sejak pra-mos bersamaku. Tak
hanya aku mungkin, banyak yang terpisah-pisah sepertinya. Nasib, nasib.
Materi, materi, dan materi. Lalu
istirahat untuk solat atau sekadar makan camilan. Lalu materi lagi. Begitulah
kegiatan kami selama dua hari. Tiada henti hingga waktu menunjukkan pukul empat
sore. Kami pulang dengan lega, dan persiapan untuk esok harinya. Rasanya
kaki-kaki ini pegal. Karena seharian terduduk diaula, menangkap materi yang
diberikan.
Hari kedua terasa lambat. Entah
kenapa, mungkin aku sudah bosan. Kantuk sering menyerang. Untung aku masih bisa
bercanda dengan teman-teman baruku saat istirahat. Mata yang lelah ini, yang
sudah tak kuasa menahan kantuk, seketika cenghar
saat keluar dari aula.
Para akhwat bercengkrama dengan
cekikikan khas perempuan. Bergurau, bercanda, atau sekadar mengobrol pun
dilakukan ketika kami mengantre jatah air untuk kami bersuci. Waktu istirahat
solat hampir habis. Para ikhwan tak nampak disekitar sini. Kemana mereka?
Mungkin ada tempat wudhu didekat mesjid. Kami sangat terhijab.
Matahari memang tak tampak jika
kami sedang di aula. Tapi aku tahu, sang mentari kian turun agar memberitahu
waktu telah usai untuk hari itu. Hari kedua selesai. Fyuh, akhirnya!
Hari ketiga dimulai. Dengan
teriakkan para panitia yang memberi gerakan pemanasan kepada pesertanya yang
kesiangan. Membuyarkan sunyinya pagi ini. Ku hirup udara segar dengan senyuman,
aku tak terlambat lagi.
Kami pun dikumpulkan lagi dikelas
masing-masing. Para pembimbing mengawali percakapan. “siapa yang sudah makan?
Cung hand! Yang belum silakan makan dulu.” Krauk krauk. Nyam nyam. Bla bla bla.
Nyanyian yang sangat merdu, ada yang makan ada yang mengobrol. Tak lama
kemudian kami dipanggil untuk segera menuju gedung yang mengelilingi lapangan
serba guna. Seperti biasa, kami berlarian layaknya semut yang keluar dari
sarangnya. Berbondong-bondong. Berdesakan dan segera mencari posisi agar nyaman
saat menonton. Yah, hari ini tak ada materi. Setiap ekskul akan menampilkan
semacam drama hiburan. Ada juga sih yang unjuk gigi menampilkan kebolehannya.
Menarik.
Sayangnya kami sangat sangat
diharuskan menikmati acara dengan berdiri. Setiap ada yang ketahuan duduk, para
panitia pendisiplin sigap menegur “hey kamu! Jangan egois. Yang lain juga
pegal, gak cuma kamu!”. Itu untuk mendidik. Aku mengerti. Itu untuk kebaikan
kita juga.
Meskipun begitu, kami tetap
mencuri-curi kesempatan untuk duduk. Sungguh, aku tak kuasa lagi! Apalagi aku
dan tiga temanku yang kusebut ‘anak kucrit’, dengan kompak duduk diatas dua
bangku yang kami bawa dari kelas. Sesekali tertangkap basah sedang duduk, tetap
ngeyel karena terlalu pegal (jangan ditiru!). yang lain juga begitu. Merananya
nasib kami.
Entah apa yang membuat dia
terkenal. Ketika sesi pertanyaan dibuka, pembawa acara mempersilakan bagian
ikhwan untuk bertanya. Atau saat apapun yang melibatkan peserta, ikhwan
serempak berkata “Asep! Asep!” hingga sang Asep pun menampakkan diri, mewakili
para ikhwan. Dan membuatnya menjadi peserta ikhwan teraktif. Sungguh
menyenangkan!
Nyata atau maya. Legenda atau
fakta. Ku rasa sudah banyak peserta yang mengidolakan beberapa panitia. Yah,
bukan cinta pada pandangan pertama, hanya “fans”. Aku pun merasakannya. Hehe.
Tapi tetap jaga hati! Kata seorang temanku.
Mentari memang penunjuk waktuku
kala itu. Perlahan ia menenggelamkan diri hingga langit menghitam. Kumandang
adzan maghrib bergemuruh. Hari terakhir ini, lebih lama namun terasa singkat.
Upacara penutupan acara telah selesai, saatnya kami pulang. Senyuman sang kakak
yang aku idolakan melesat ke arahku, sambil memberi semangat dan doa untuk
perjuanganku yang sebernarnya nanti. Oh, bahagianya! Tapi aku tak boleh larut
dalam hal ini. Meski ingin sekali mengobrol lebih lama. Saatnya aku untuk pulang.
Diatas bangga, lega, bahagia. Kami
langkahkan kaki meninggalkan komplek sekolah. Hingga hari belajar tiba, kami
siap memulai perjuangan! Dengan cinta dan persahabatan, mengawali lembar baru
di putih abu-abu...
_ismie al-hilal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar