Matahari tepat berada di titik
tertingginya. Teriknya menertawakan raga yang kepanasan. Tak tertahankan.
Menciptakan fatamorgana diatas aspal jalan yang tampak seperti air dari
kejauhan. Kendaraan lalu-lalang mencoba mengabaikan panasnya sang sumber
cahaya.
Tiada setitik pun awan dilangit
biru. Burung-burung berteduh dibawah bayangan bangunan-bangunan yang menjulang
tinggi. Rerumputan menguning di beberapa tempat. Tak segar, kuning kering.
Pepohonan dengan tegapnya memberikan keteduhan bagi yang berteduh. Padahal ia
sendiri kepanansan.
Seorang anak jalanan dengan sebuah
ukulele dan baju kumalnya berlarian menemukan angkutan untuknya mencari nafkah.
Dengan semangatnya yang terlihat dari keringatnya yang bercucuran dari pelipis,
leher, punggung, dan bagian tubuh lain. Meski tak dapat banyak dari para
pendengar nyanyiannya, senyumannya mengantarkan ia menuju kesabaran dan rasa
syukur.
Disebuah gang kecil tampak
segerombol anak-anak menenggak beberapa butir obat yang tak seharusnya dikonsumsi.
Mereka terhuyung-terhuyung bahagia. Tertawa. Padahal rasa sakit akan menikam
mereka kemudian.
“ah, aku mau pulang.” Ucap seorang
wanita ditengah kebahagiaan pesta.
“mau kemana kamu, Tania? Tak
tergodakah kamu dengan ini? Atau kau ingin aku bunuh?! Hahaha....”
Braakkk!!
Lelaki yang mencegah Tania pulang,
terjatuh. Ia pingsan. Dengan mantap ia berjalan meninggalkan mereka yang masih
tersesat.
Seorang muadzin mulai bersuara
dibalik hiruk pikuk kesibukan manusia siang itu. Penanda bahwa waktu zhuhur telah
tiba. Seruan beberapa masjid di tengah-tengah kepadatan bangunan rumah dan
gedung-gedung dalam kota mengingatkan para pemeluk Islam untuk segera
mendirikan shalat.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar! Allaahu
Akbar, Allahu Akbar!
Asyhadu an laa ilaaha illallaah!
Asyhadu an laa ilaaha illallaah!
Dengan basmallah ia mencuci kedua
tangannya, lalu wajahnya. Ia tak seorang diri disana. Banyak pula yang hendak
bersuci. Tetesan-tetesan air membasahi kulitnya yang sawo matang. Menyegarkan
jiwanya yang sedang dilanda kebimbangan. Teringat kenangan-kenangan buruknya
selama hampir setahun bersama gerombolan pemakai narkoba yang berakhir beberapa
jam lalu.
Ya, sering kali ia tidak
melaksanakan shalat. Bukan lupa, tapi karena disengaja. Kawan yang ia jadikan
sahabat dengan rutin mengajak gadis remaja itu menelan butiran-butiran racun
hingga ia mabuk untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya Tania terbiasa merasa
jauh dari Sang Pencipta. Kenapa aku
tiba-tiba ingin shalat?
Seorang lelaki mengganti pakaian
kumalnya dengan baju shalat yang bersih rapi. Sarung yang ia dapatkan dari
hasil jerih payahnya bekerja, ia ikatkan dipinggangnya. Tak lupa ia pakai peci
hitam yang telah lama bersamanya disetiap shalat. Shalat ini adalah cerminan rasa syukurku padaMu, ya Allah. Terimalah shalatku.
Aamiin.
Hayya ‘alash shalaah! Hayya ‘alash
shalaah!
Tak jauh dari masjid, didepan
sebuah warung kecil didalam gang, tampak dua orang lelaki gemuk bermain catur
dengan sangat serius. Ditemani masing-masing segelas kopi hitam dan beberapa
batang rokok.
“bapak-bapak ndak solat? Sudah
adzan.”
“ibu kagak liat kita lagi ngapain?
Solat kan bisa nanti bu!” tegas salah satu lelaki berusia sekiar 45 tahun.
“yo wis, saya nitip warungku dulu
yo. Saya mau solat.” Ia berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan
segera mengambil air untuk bersuci.
Hayya ‘alal falaah! Hayya ‘alal
falaah!
Jari-jarinya menari diatas keyboard
laptop. Pandangan dan fikirannya tenggelam dalam beberapa situs internet yang
ia buka. Sesekali ia tertawa membaca status teman-temannya yang nge-galau di dunia maya ataupun chatting dengan seseorang disana.
Hatinya hanya berkata, Ah, sudah zhuhur. Tanpa beranjak
sedikitpun dari tempat duduknya, ia melanjutkan pekerjaan yang ia pentingkan
tersebut. Dan membaca lagi, tertawa lagi, lalu jemarinya bermain lagi.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar!
Laa ilaaha illallaah...
Ismie Al-Hilal
Selasa, 23 juli 2012 18:35

Tidak ada komentar:
Posting Komentar