Categories

Rabu, 25 Juli 2012

Ketika Adzan Berkumandang



Matahari tepat berada di titik tertingginya. Teriknya menertawakan raga yang kepanasan. Tak tertahankan. Menciptakan fatamorgana diatas aspal jalan yang tampak seperti air dari kejauhan. Kendaraan lalu-lalang mencoba mengabaikan panasnya sang sumber cahaya.
Tiada setitik pun awan dilangit biru. Burung-burung berteduh dibawah bayangan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Rerumputan menguning di beberapa tempat. Tak segar, kuning kering. Pepohonan dengan tegapnya memberikan keteduhan bagi yang berteduh. Padahal ia sendiri kepanansan.
Seorang anak jalanan dengan sebuah ukulele dan baju kumalnya berlarian menemukan angkutan untuknya mencari nafkah. Dengan semangatnya yang terlihat dari keringatnya yang bercucuran dari pelipis, leher, punggung, dan bagian tubuh lain. Meski tak dapat banyak dari para pendengar nyanyiannya, senyumannya mengantarkan ia menuju kesabaran dan rasa syukur.
Disebuah gang kecil tampak segerombol anak-anak menenggak beberapa butir obat yang tak seharusnya dikonsumsi. Mereka terhuyung-terhuyung bahagia. Tertawa. Padahal rasa sakit akan menikam mereka kemudian.
“ah, aku mau pulang.” Ucap seorang wanita ditengah kebahagiaan pesta.
“mau kemana kamu, Tania? Tak tergodakah kamu dengan ini? Atau kau ingin aku bunuh?! Hahaha....”
Braakkk!!
Lelaki yang mencegah Tania pulang, terjatuh. Ia pingsan. Dengan mantap ia berjalan meninggalkan mereka yang masih tersesat.
Seorang muadzin mulai bersuara dibalik hiruk pikuk kesibukan manusia siang itu. Penanda bahwa waktu zhuhur telah tiba. Seruan beberapa masjid di tengah-tengah kepadatan bangunan rumah dan gedung-gedung dalam kota mengingatkan para pemeluk Islam untuk segera mendirikan shalat.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar! Allaahu Akbar, Allahu Akbar!
Asyhadu an laa ilaaha illallaah! Asyhadu an laa ilaaha illallaah!
Dengan basmallah ia mencuci kedua tangannya, lalu wajahnya. Ia tak seorang diri disana. Banyak pula yang hendak bersuci. Tetesan-tetesan air membasahi kulitnya yang sawo matang. Menyegarkan jiwanya yang sedang dilanda kebimbangan. Teringat kenangan-kenangan buruknya selama hampir setahun bersama gerombolan pemakai narkoba yang berakhir beberapa jam lalu.
Ya, sering kali ia tidak melaksanakan shalat. Bukan lupa, tapi karena disengaja. Kawan yang ia jadikan sahabat dengan rutin mengajak gadis remaja itu menelan butiran-butiran racun hingga ia mabuk untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya Tania terbiasa merasa jauh dari Sang Pencipta. Kenapa aku tiba-tiba ingin shalat?
Seorang lelaki mengganti pakaian kumalnya dengan baju shalat yang bersih rapi. Sarung yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya bekerja, ia ikatkan dipinggangnya. Tak lupa ia pakai peci hitam yang telah lama bersamanya disetiap shalat. Shalat ini adalah cerminan rasa syukurku padaMu, ya Allah. Terimalah shalatku. Aamiin.
Hayya ‘alash shalaah! Hayya ‘alash shalaah!
Tak jauh dari masjid, didepan sebuah warung kecil didalam gang, tampak dua orang lelaki gemuk bermain catur dengan sangat serius. Ditemani masing-masing segelas kopi hitam dan beberapa batang rokok.
“bapak-bapak ndak solat? Sudah adzan.”
“ibu kagak liat kita lagi ngapain? Solat kan bisa nanti bu!” tegas salah satu lelaki berusia sekiar 45 tahun.
“yo wis, saya nitip warungku dulu yo. Saya mau solat.” Ia berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera mengambil air untuk bersuci.
Hayya ‘alal falaah! Hayya ‘alal falaah!
Jari-jarinya menari diatas keyboard laptop. Pandangan dan fikirannya tenggelam dalam beberapa situs internet yang ia buka. Sesekali ia tertawa membaca status teman-temannya yang nge-galau di dunia maya ataupun chatting dengan seseorang disana.
Hatinya hanya berkata, Ah, sudah zhuhur. Tanpa beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, ia melanjutkan pekerjaan yang ia pentingkan tersebut. Dan membaca lagi, tertawa lagi, lalu jemarinya bermain lagi.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar!
Laa ilaaha illallaah...

Ismie Al-Hilal
Selasa, 23 juli 2012 18:35

Tidak ada komentar: