Categories

Selasa, 09 Oktober 2012

Pernyataan Aneh



Nyanyian Sparrow, burung pipit sahabatku menyambut matahari yang baru beberapa saat lalu muncul. Ia terbang menghampiriku dan bertengger di ujung jariku ketika aku membuka jendela kamar. Dengan riang ia mengajakku tersenyum. Ah, pagi yang indah di Negri Escapist.
Daun-daun biru, sebiru langit di atas tanah Negri Escapist yang terkenal dengan mawar ungu yang hanya tumbuh di halaman istanaku. Pohon-pohon yang heksahedral pun menambah ciri khas dari negri yang ku pimpin ini. Bunga melati hitam yang semerbak harumnya tiada tandingan. Air menitik di atas tumbuhan yang tumbuh ceria di negri ini. Embun. Tadi malam hujan tidak turun, tapi karena negri ini berada di puncak gunung Abadi. Segar.
Aku berjalan-jalan sambil menyapa para penduduk yang ramah. Namun di suatu tempat, aku bertemu seorang kakek yang kesusahan membawa sekeranjang pepaya merah muda. Aku bergegas membantunya. Ia tersenyum. Sambil berbincang-bincang kami menuju sebuah rumah kecil di dekat hutan terong emas. Tiba-tiba telfonku berdering...
“halo?” ucap seseorang di sana.
“ada apa Ayah?”
“Astuti, kenapa kamu langsung keluyuran? Mandi dan sarapan dulu! Cepatlah pulang!”
Dengan malu karena kakek itu mendengar pembicaraan aku dan ayah, aku pamit pulang. Sebelumnya kakek itu berterimakasih padaku dan memberiku sebuah pepaya merah muda dan sebuah terong emas.
“makanlah buah-buah itu setelah kamu sarapan, gadis manis!” ucapnya dengan suaranya yang ia paksakan keras.
“iya, Kek. Terima kasih”  aku meninggalkannya dengan senyuman.
***
Aku segera mengambil garpu dan pisau untuk memakan buah-buah itu. Tapi, saat pisau menyentuh kulit buah pepaya merah muda, buah itu menggeliat, bergerak-gerak seakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalamnya. Tiba-tiba... Puff! Muncul seorang pria kecil seukuran pepaya. Ia tertawa melihatku yang kaget.
“ahirnya kau ku temukan juga, Putri Astuti! Hahaha” gelak tawanya membahana di seluruh penjuru ruang makan istana.
“boleh aku pinjam HPmu?” tanyanya.
Aku memberikan HPku ragu, sedikit tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Baru kali ini aku melihat pria kecil seukuran pepaya yang berjerawat! Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya karena ia memergoki aku yang jijik melihat jerawat yang tak terhitung jumlahnya. Aku terkekeh, tapi ia segera menggenggam gantungan HP kesayanganku yang berbentuk kelinci imut dan mengambilnya. Ia berlari keluar sambil berteriak, “jika kau mau ini kembali, ambillah di puncak Gunung Gagap. Hahaha!”
***
Aku mengajak Sparrow untuk menemaniku mengambil kelinciku kembali. Sebelum berangkat, aku pergi ke desa membeli peta Gunung Gagap. Ternyata murah, hanya seharga sepuluh biji kenari. Lalu ku lanjutkan dengan membeli makanan burung, roti blueberry, susu kental manis, paku, dan beberapa potong gaun.
Aku dan Sparrow mulai beranjak meninggalkan Negri Escapist menuju puncak Gunung Gagap. Awalnya aku berjalan ke utara sejauh sepuluh langkah kaki, lalu belok kiri limapuluh langkah, ke kanan duapuluh langkah dan belok ke utara seratus duapuluh delapan langkah. Setelah itu aku mendaki tebing-tebing curam dengan kemiringan 1790. Huh, sungguh lelah sekali.
Beberapa langkah ke depan, lelaki kecil itu muncul tiba-tiba dari dalam tanah dan mengejutkan aku serta Sparrow. Ia terkekeh lalu menunjukkanku kelinci imut yang dia ambil dariku. Aku segera meraihnya tapi tak dapat!
“eh eh eh. Nanti dulu, jangan buru-buru. Kamu tahu tidak kelinci imut ini milik siapa?”
“milikku!”
“salah! Kamu mendapatkan ini dari Ayahmu kan? Kamu pasti tak tahu, Ayahmu mendapatkan kelinci ini dariku. Jadi, ini milikku.”
“tidak mungkin! Kamu bohong! Itu kelinci kesayanganku... kembalikan!”
“jika kamu mau ini, kamu hanya perlu menjawab pertanyaan dariku.”
“baiklah.”
“maukah kau menikah denganku?”
Tiba-tiba pria kecil berjerawat ini melayang keangkasa. Berputar-putar. Lalu turun lagi dengan wujud baru, ia seperti pangeran tampan!
“siapa kau?” tanyaku heran.
“aku pangeran dari Negri Hiburan. Aku selalu mengikutimu di Twitter dan aku selalu berkunjung melihat status-statusmu di Facebook. Tapi aku malu menampakkan diriku karena aku terlalu tampan. Padahal aku ingin sekali segera menikah denganmu. Bersediakah kau?”
“???”

Tidak ada komentar: