Memainkan jemari dalam coretan hari, atau hanya sekedar berkicau arti | dengan itu aku mengungkap rasa, benak, dan keluh.
Minggu, 28 September 2014
Kamis, 18 September 2014
Menjemput Jiwa yang Hilang
Ya Allah, aku benar-benar ingin
bersua dengan-Mu
Gulana ini terlalu erat
mendekapku
Pengap, tanpa batasnya lamunan
ini memintaku
Segera menemui-Mu
Ya Allah, aku benar-benar resah
Savana yang mati ini membuatku
berkeluh kesah
Kemana perginya jiwa?
Padahal ruhku masih ada
Aduhai, setengah mati aku kejar
manusia
Di bumi daratan hina
Setengah mati aku terlupa jiwa
Yang sebenarnya milik siapa?
Lupa pada-Mu ya Allah, aku hilang
dari-Mu
Menjerit-jerit, aku ingin koyak
tubuhku
Tapi tiada arti
Yang ‘kan membuatku kembali
Pulang! Aku ingin pulang!
Wahai Yang Maha Suci
Biarkan jiwaku kembali
Biarkan kutemui jalan setapak
menuju Engkau
Biarkan Kau izinkan kepergian
malang dan galau
Ampuni aku yang hina dari bumi yang
kubuat hina
Ampuni hamba dari segala hina
Lamunan Melamun
Melamun
Aku dalam embun
Kulit tak lagi berperih
Atau luka terambil alih
Melamun
Bisakah kau sadarkan aku hingga
bangun?
Hei, lelaki bertudung kelambu
Aku bicara padamu!
Melamun
Aku-kamu, cinta yang tak anggun
Membawa kita pergi dalam romantika
beruntun
Yang kini tak tau di mana kita
sedang berayun
Melamun
Cianjur
Jumat, 05 September 2014
Kisah Seribu Masa
Aku bicara pada ayah
Tentang lentera yang
payah
Yang jadi hidup di
antah berantah
Yang tak lagi
membuat malamku jadi pecah
“Ku pikir sebuah
percik api itu telah membawaku mati suci
Tapi ayah, tak hanya
itu yang kini menggenang begitu ria di bumiku
Tanganku terluka,
sangat terluka hingga goresannya bukan hanya luka
Namun jadi sepotong
tanah yang meretak membelah hingga seperti ingin memisah diri
Melepas diri dari
tubuhku yang masih haus menyentuh riak angin dari atas perahu juga dentuman
hujan yang menyentuh tanah pijakan kaki
Kakiku juga pergi
tanpa setetes darahpun tertinggal pada dinding kulitku yang terpaksa
kehilangannya tanpa jerit air mata
Matakupun menyayu
melihat bumiku yang tanpa pandang rasa disendukan kegersangan oleh air-air yang
kian terkuras”
Ayah sejenak
membuang nafas dan mencoba membuatku berhenti mengenang perih yang kurasa perih
dengan getaran udara lembut keluar dari cintanya, “itu romantika, anakku”
Cianjur
Sabtu, 06 September 2014
Bumi-tanah
Ken,
Aku ingin berkisah
Tentang abu sepotong
tanah
Berpohon ayu tanpa
getah
Ken,
Ia telah di sana
Sejak ribuan
matahari-purnama
Sejak ia mulai
meniduri bumi yang tanpa bala
Lalu sebiji benih
terkubur di tubuhnya
Tumbuh mematung
menuruti masa
Ken,
Ini kisah yang tak
kuharap berujung nestapa
Karena apa daya,
benih itu telah jadi segalanya
Menjelma perindangan
bagi tanah dan buminya
Menjadi perekat
tanah dan bumi sebab ia tumbuh di antaranya
Ken,
Ialah pohon tak
bergetah
Yang tak memberi
bumi-tanah sebuah resah
Janji mati suci yang
takkan buat mereka payah
Menentang tangan
alam yang kenan mereka pisah
Cianjur
Minggu, 07 September 2014
Langganan:
Komentar (Atom)