Categories

Kamis, 18 September 2014

Menjemput Jiwa yang Hilang

Ya Allah, aku benar-benar ingin bersua dengan-Mu
Gulana ini terlalu erat mendekapku
Pengap, tanpa batasnya lamunan ini memintaku
Segera menemui-Mu
Ya Allah, aku benar-benar resah
Savana yang mati ini membuatku berkeluh kesah
Kemana perginya jiwa?
Padahal ruhku masih ada
Aduhai, setengah mati aku kejar manusia
Di bumi daratan hina
Setengah mati aku terlupa jiwa
Yang sebenarnya milik siapa?
Lupa pada-Mu ya Allah, aku hilang dari-Mu
Menjerit-jerit, aku ingin koyak tubuhku
Tapi tiada arti
Yang ‘kan membuatku kembali
Pulang! Aku ingin pulang!
Wahai Yang Maha Suci
Biarkan jiwaku kembali
Biarkan kutemui jalan setapak menuju Engkau
Biarkan Kau izinkan kepergian malang dan galau
Ampuni aku yang hina dari bumi yang kubuat hina
Ampuni hamba dari segala hina

Lamunan Melamun

Melamun
Aku dalam embun
Kulit tak lagi berperih
Atau luka terambil alih

Melamun
Bisakah kau sadarkan aku hingga bangun?
Hei, lelaki bertudung kelambu
Aku bicara padamu!

Melamun
Aku-kamu, cinta yang tak anggun
Membawa kita pergi dalam romantika beruntun
Yang kini tak tau di mana kita sedang berayun

Melamun


Cianjur

Jumat, 05 September 2014

Kisah Seribu Masa

Aku bicara pada ayah
Tentang lentera yang payah
Yang jadi hidup di antah berantah
Yang tak lagi membuat malamku jadi pecah

“Ku pikir sebuah percik api itu telah membawaku mati suci
Tapi ayah, tak hanya itu yang kini menggenang begitu ria di bumiku
Tanganku terluka, sangat terluka hingga goresannya bukan hanya luka
Namun jadi sepotong tanah yang meretak membelah hingga seperti ingin memisah diri
Melepas diri dari tubuhku yang masih haus menyentuh riak angin dari atas perahu juga dentuman hujan yang menyentuh tanah pijakan kaki

Kakiku juga pergi tanpa setetes darahpun tertinggal pada dinding kulitku yang terpaksa kehilangannya tanpa jerit air mata

Matakupun menyayu melihat bumiku yang tanpa pandang rasa disendukan kegersangan oleh air-air yang kian terkuras”

Ayah sejenak membuang nafas dan mencoba membuatku berhenti mengenang perih yang kurasa perih dengan getaran udara lembut keluar dari cintanya, “itu romantika, anakku”


Cianjur

Sabtu, 06 September 2014

Bumi-tanah

Ken,
Aku ingin berkisah
Tentang abu sepotong tanah
Berpohon ayu tanpa getah

Ken,
Ia telah di sana
Sejak ribuan matahari-purnama
Sejak ia mulai meniduri bumi yang tanpa bala
Lalu sebiji benih terkubur di tubuhnya
Tumbuh mematung menuruti masa

Ken,
Ini kisah yang tak kuharap berujung nestapa
Karena apa daya, benih itu telah jadi segalanya
Menjelma perindangan bagi tanah dan buminya
Menjadi perekat tanah dan bumi sebab ia tumbuh di antaranya

Ken,
Ialah pohon tak bergetah
Yang tak memberi bumi-tanah sebuah resah
Janji mati suci yang takkan buat mereka payah
Menentang tangan alam yang kenan mereka pisah


Cianjur

Minggu, 07 September 2014